Visual Basic

Program Menentukan Nilai Ujian silakan download di : https://madeistriani.wordpress.com/wp-content/uploads/2011/04/eka-istriani-exe.doc (setelah download selesai ubah nama file extitionnya menjadi Ekaistriani.exe)

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

INTERNET/KOMPUTER

MANFAAT INTERNET BAGI PROSES BELAJAR-MENGAJAR

Beberapa manfaat internet dalam proses belajar-mengajar adalah sebagai berikut:

1. Menjadi jawaban bagi kelemahan-kelemahan proses belajar-mengajar konvensional

Internet memang besar manfaatnya bagi kehidupan manusia termasuk dalam bidang pendidikan. Selain memberi kemudahan dalam proses pencarian informasi, internet juga bermanfaat dalam proses belajar dan mengajar antara dosen/guru/intruktur dengan siswanya. Dalam hal ini, beberapa kelemahan di dalam proses belajar dan mengajar konvensional dapat terselesaikan.

Pendekatan pembelajaran dikatakan sebagai pendekatan pembelajaran yang konvensional apabila mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Otoritas seorang guru lebih diutamakan dan berperan sebagai contoh bagi murid-muridnya.

b. Perhatian kepada masing-masing individu atau minat siswa sangat kecil.

c. Pembelajaran di sekolah lebih banyak dilihat sebagai persiapan akan masa depan, bukan sebagai peningkatan kompetensi siswa di saat ini.

d. Penekanan yang mendasar adalah pada bagaimana pengetahuan dapat diserap oleh siswa dan penguasaan pengetahuan tersebutlah yang menjadi tolok ukur keberhasilan tujuan, sementara pengembangan potensi siswa diabaikan.

Proses belajar dan mengajar konvensional ditandai dengan guru mengajar lebih banyak tentang konsep-konsep bukan kompetensi, tujuannya adalah siswa mengetahui sesuatu bukan mampu untuk melakukan sesuatu, dan pada saat proses pembelajaran siswa lebih banyak mendengarkan. Di sini terlihat bahwa pendekatan konvensional yang dimaksud adalah proses pembelajaran yang lebih banyak didominasi gurunya sebagai “pen-transfer” ilmu, sementara siswa lebih pasif sebagai “penerima” ilmu.

Institute of Computer Technology menyebutnya dengan istilah “Pengajaran tradisional”. Dijelaskannya bahwa pengajaran tradisional yang berpusat pada guru adalah perilaku pengajaran yang paling umum yang diterapkan di sekolah-sekolah di seluruh dunia. Pengajaran model ini dipandang efektif, terutama untuk:

a. Berbagi informasi yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

b. Menyampaikan informasi dengan cepat.

c. Membangkitkan minat akan informasi.

d. Mengajari siswa yang cara belajar terbaiknya dengan mendengarkan.

Namun demikian pendekatan pembelajaran tersebut mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut:

a. Tidak semua siswa memiliki cara belajar terbaik dengan mendengarkan.

b. Sering terjadi kesulitan untuk menjaga agar siswa tetap tertarik dengan apa yang dipelajari.

c. Pendekatan tersebut cenderung tidak memerlukan pemikiran yang kritis.

d. Pendekatan tersebut mengasumsikan bahwa cara belajar siswa itu sama dan tidak bersifat pribadi.

Keberadaan internet dimana setiap orang bebas memberi dan menerima informasi dari siapa saja, kapan saja dan dimana saja telah menjadikan internet sebagai pendorong revolusioner dalam arus informasi global. Kelebihan internet ini buat sebagian kalangan telah menjadi momok yang menakutkan. Tetapi tidak demikian di dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar dan mengajar. Tidak adanya batasan ruang dan waktu dalam internet telah menjadi kelebihan internet tersebut untuk digunakan sebaik-baiknya di dalam proses belajar dan mengajar. Apabila selama ini pendekatan konvensional dalam proses belajar dan mengajar menempatkan peserta didik sebagai pihak yang pasif, maka dengan proses belajar mengajar yang memanfaatkan internet akan membuat peserta didik dengan sendirinya menjadi pihak yang aktif. Yang kemudian terjadi adalah tercapainya cara belajar yang berbeda-beda bagi masing-masing siswa dan hal itu artinya proses belajr-mengajar bersifat pribadi bagi masing-masing siswa. Dengan demikian, keberadaan internet dalam proses belajar-mengajar dapat menyelesaikan kelemahan-kelemahan dalam proses belajar-mengajar konvensional.

2. Meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar

Proses belajar-mengajar dengan menggunakan internet dapat diterapkan di sekolah-sekolah yang mempunyai fasilitas komputer yang memadai. Walaupun sebenarnya dapat juga diusahakan oleh sekolah yang tidak mempunyai fasilitas komputer misalnya dengan mendatangi warnet sebagai partner dalam proses belajar-mengajar tersebut.

Di sini dibutuhkan kepiawaian seorang guru dalam mendampingi, membimbing dan mengolah metode pembelajaran agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai dengan kualitas yang lebih bagus. Beberapa metode pendukung yang dapat dilakukan oleh guru diantaranya adalah: diskusi, demonstrasi, problem solving, inkuiri, dan descovery. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan cara mencari (down load) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan. Guru dapat memberi tugas pada siswa untuk mencari suatu peristiwa mutakhir dari internet kemudian mendiskusikannya di kelas, lalu siswa menyusun laporan dari hasil diskusi tersebut.

Metode-metode tersebut dapat dilakukan guru dengan model-model pembelajaran yang bervariasi supaya siswa semakin senang dan tertarik untuk mempelajarinya sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi pembelajaran yang bermakna. Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak. Siswa juga akan terbiasa mencari berbagai informasi dari berbagai sumber untuk belajar. Pembelajaran ini juga mendidik siswa untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam kelompok kecil maupun tim. Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet, maka pengetahuan dan wawasan siswa berkembang dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dengan demikian kualitas proses belaja-mengajar dan kualitas pendidikan juga akan meningkat.

3. Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran

Apabila dirancang secara cermat, pembelajaran dengan internet dapat meningkatkan kadar interaksi pembelajaran, baik antara peserta didik dengan guru/instruktur, antara sesama peserta didik, maupun antara peserta didik dengan bahan belajar (enhance interactivity). Hal ini berbeda dengan pembelajaran yang bersifat konvensional. Tidak semua peserta didik dalam kegiatan pembelajaran konvensional dapat, berani atau mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan ataupun menyampaikan pendapatnya di dalam diskusi. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran yang bersifat konvensional, kesempatan yang ada atau yang disediakan dosen/guru/instruktur untuk berdiskusi atau bertanya jawab sangat terbatas. Biasanya kesempatan yang terbatas ini juga cenderung didominasi oleh beberapa peserta didik yang cepat tanggap dan berani.

Keadaan yang demikian ini tidak akan terjadi pada pembelajaran melalui internet. Peserta didik yang malu maupun yang ragu-ragu atau kurang berani mempunyai peluang yang luas untuk mengajukan pertanyaan maupun menyampaikan pernyataan/pendapat tanpa merasa diawasi atau mendapat tekanan dari teman sekelas.

4. Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).

Mengingat sumber belajar yang sudah dikemas dan tersedia untuk diakses oleh peserta didik melalui internet, maka peserta didik dapat melakukan interaksi dengan sumber belajar ini kapan saja dan dari mana saja. Demikian juga dengan tugas-tugas kegiatan pembelajaran, dapat diserahkan kepada instruktur begitu selesai dikerjakan. Tidak perlu menunggu sampai ada janji untuk bertemu dengan guru/dosen/instruktur. Peserta didik tidak terikat ketat dengan waktu dan tempat penyelenggaraan kegiatan pembelajaran sebagaimana halnya pada pendidikan konvensional.

5. Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).

Dengan fleksibilitas waktu dan tempat, maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan proses belajar-mengajar melalui internet semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

PERKEMBANGAN KURIKULUM

1  Perkembangan Kurikulum

Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, dan direncanakan pada tahun 2004. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.Rentjana Pelajaran 1947, yang menjadi Kurikulum Pendidikan masa itu masih dipengaruhi sistem pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya.Ia bisa dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda.

Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini.Pada tahun 1952, kurikulum pendidikan mengalami penyempurnaan, dengan nama Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu system pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.Menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di Indonesia, dengan nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran yang menjadi cirinya adalah pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani.Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari        Kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen, bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan ketrampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

Ada enam dimensi pengembangan kurikulum untuk pendidikan tinggi yaitu pengembangan ide dasar untuk kurikulum, pengembangan program, rencana perkuliahan/satuan pembelajaran, pengalaman belajar, penilaian dan hasil. Keenam dimensi tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori yaitu Perencanaan Kurikulum, Implementasi Kurikulum, dan Evaluasi Kurikulum. Perencanaan Kurikulum berkenaan dengan pengernbangan Pokok Pikiran/Ide kurikulum dimana wewenang menentukan ada pada pengambil kebijakan urtuk suatu lembaga pendidikan. Sedangkan Implementasi kurikulum berkenaan dengan pelaksanaan kurikulum di lapangan (lembaga pendidikan/kelas) dimana yang menjadi pengembang dan penentu adaIah dosen/tenaga kependidikan. Evaluasi KurikuIum merupakan kategori ketiga dimana kurikulum dinilai apakah kurikulum memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang sudah dirancang ataukah ada masalah lain baik berkenaan dengan salah satu dimensi ataukah keseluruhannya. Dalam konteks ini evaluasi kurikulum dilakukan oleh tim di luar tim pengembang kurikulum dan dilaksanakan setelah kurikulum dianggap cukup waktu untuk menunjukkan kinerja dan prestasinya. Awal kurikulum terbentuk pada tahun 1947, yang diberi nama Rentjana Pembelajaran 1947.

Kurikulum ini pada saat itu meneruskan kurikulum yang sudah digunakan oleh Belanda karena pada saat itu masih dalam psoses perjuangan merebut kemerdekaan. Yang menjadi ciri utama kurikulum ini adalah lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia yang berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain.Setelah rentjana pembelajaran 1947, pada tahun 1952 kurikulum Indonesia mengalami penyempurnaan. Dengan berganti nama menjadi Rentjana Pelajaran Terurai 1952. Yang menjadi ciri dalam kurikulum ini adalah setiap pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari.Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964 pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum pendidikan di Indonesia. Kali ini diberi nama dengan Rentjana pendidikan 1964. yang menjadi ciri dari

kurikulum ini pembelajaran dipusatkan pada program pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional, kerigelan dan jasmani.

Kurikulum 1968 merupakan pemabaharuan dari kurikulum 1964. Yaitu perubahan struktur pendiddikan dari pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Pemabelajaran diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta pengembangan fisik yang sehat dan kuat kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. Metode materi dirinci pada Prosedur Pengembangan Sistem Instruksi (PPSI). Menurut Mudjito (dalam Dwitagama: 2008) Zaman ini dikenal dengan istilah satuan pelajaran yaitu pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan intruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi.Kurikulum 1984 mengusung proses skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan itu penting. Kurikulum ini juga sering disebut dengan kurikulum 1975 yang disempurnakan. Posisi siswa ditempatkan sebgai subyek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan,hingga melaporkan. Model ini disebut dengan model Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan (dalam Dwitagama: 2008).Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Dengan sistem caturwulan yang pembagiannya dalam satu tahun menjadi tiga tahap diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak.

Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:

  • Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem catur wulan.
  • Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi).
  • Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
  • Dalam pelaksanaan kegiatan, guru hendaknya memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban) dan penyelidikan.
  • Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
  • Pengajaran dari hal yang konkrit ke ha yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit dan dari hal yang sederhana ke hal yang kompleks.
  • Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman.

Selama dilaksanakannya kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat dari kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented), di antaranya sebagai berikut:

  • Beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/ substansi setiap mata pelajaran.
  • Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa, dan kurang bermakna karena kurang terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari.
  • Permasalahan di atas saat berlangsungnya pelaksanaan kurikulum 1994. Hal ini mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan itu diberlakukannya suplemen kurikulum 1994. Penyempurnaan tersebut dilakukan dengan tetap mempertimbangkan prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:

 

  • Penyempurnaan kurikulum secara terus menerus sebagai upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
  • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
  • Penyempurnaan kurikulum dilakukan untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
  • Penyempurnaan kurikulum mempertimbangkan brbagai aspek terkait, seperti tujuan materi pembelajaran, evaluasi dan sarana-prasarana termasuk buku pelajaran.
  • Penyempurnaan kurikulum tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.

Penyempurnaan kurikulum 1994 di pendidikan dasar dan menengah dilaksanakan bertahap, yaitu tahap penyempurnaan jangka pendek dan penyempurnaan jangka panjang.Implementasi pendidikan di sekolah mengacu pada seperangkat kurikulum. Salah satu bentuk invovasi yang dikembangkan pemerintah guna meningkatkan mutu pendidikan adalah melakukan inovasi di bidang kurikulum. Kurikulum 1994 disempurnakan lagi sebagai respon terhadap perubahan struktural dalam pemerintahan dari sentralistik menjadi disentralistik sebagai konsekuensi logis dilaksanakannya UU No. 22 dan 25 tentang otonomi daerah.

Pada era ini kurikulum yang dikembangkan diberi nama Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). KBK adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah (Depdiknas, 2002). Kurikulum ini menitik beratkan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap serangkat kompetensi tertentu. KBK diarahkan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab. ika melihat fakta ini sungguh ironis, tidak sebanding dengan fakta atas perubahan-perubahan yang sudah dilakukan sebanyak 7 kali yaitu pada tahun 1947, 1952, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006. Menurut (dari di internet) negeri kita hanya mampu menjadi bangsa “panjual” tenaga kerja murah di negeri orang. Dari pendapt di atas dapat disimpulkan betapa gagalnya dunia pendidikan di negara kita ini yang telah gagal dalam melahirkan tenaga-tenga yang berkualitas yang mampu bersaing dalam dunia kerja, walaupun kurikulum telah mengalami perubahan sebanyak 7 kali, atau bisa diseb Kurikulum kita 7 kali telah mengalami pergantian.

Faktor-faktor apa saja yang menyababkan perubahan itu. Jika diamati perubahan kurikulum dari tahun 1947 hingga 2006 yang menjadi faktor atas perubahan itu diantaranya: (1) menyesuaikan dengan perkembangan jaman, hal ini dapat kita lihat awal perubahan kurikulum dari rentJana pelajaran 1947 menjadi renjtana pelajaran terurai 1952. Awalya hanya mengikuti atau meneruskan kurikulum yang ada kemudian dikembangkan lagi dengan lebih menfokuskan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. (2) kepentingan politis semata, hal ini sangat jelas terekam dalam perubahan kurikulum 2004 (KBK) menjadi kurklum 2006 (KTSP). Secara matematis masa aktif kurikulum 2004 sebelum diubah menjadi kurikulum 2006 hanya bertahan selama 2 tahun. Hal ini tidak sesuai dengan perkembangan sebelum-sebelumnya. Dalam kurun waktu yang singkat ini, kita tidak bisa membuktikan baik tidaknya sebuah kerikulum. Hal senada juga diungkapkan oleh Bagus (2008), menyebutkan bahwa lahirnya kurikulum 1968 hanya bersifat politis saja, yaitu mengganti Rencana pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. ut berkali-kali.

Kelebihan dan kekurangan kurikulum

Kurikulum  1968

Dalam kurikulum th 1968 mulailah tercetak secara explisit kata Pancasila dalam sistem kurikulum kita, dengan disebutkannya bahwa Kelompok Pembinaan Jiwa Pancasila terdiri dari mata pelajaran Pendidikan Agama, Pendidikan Kewargaan Negara, Pendidikan Bahasa Indonesia dan Pendidikan Olahraga.
Kurikulum ini merupakan suatu peralihan menuju integritas kurikulum yang bertujuan membentuk manusia pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang berpedoman pada pembukaan undang-undang dasar 1945 dan isi undang-undang dasar 1945. Urikulum ini dibagi dalam tiga kelompok besar, yaitu kelompok pembinaan jiwa pancasila, kelompok pembinaan pengetahuan dasar ddan kelompok pembinaan kecakapan.pembelajaran IPS lebih kepada ilmu bumi, sejarah dan kemasyarakatan.
• Kelebihan
Sesuai landasan dan tujuannya, kurikulum 1968 menurut saya dapat mempertinggi mental, moral, budi pekerti dan memperkuat keyakinan agama peserta didik selain itu jugga dapat mempertinggi kecerdasan dan keterampilan serta membentuk fisik yang kuat dan sehat.
• Kekurangan

Seperti halnya kurikulum 1964 kecendrungan terdapat hanya pada aspek moral, juga pembentukan pribadi, yang hanya difokuskan secara individual saja akan tetapi pengetahuan social tidak menjadi pengetahuan yang mendasar pada kurikulum ini.

Kurikulum 1975

Kurikulum ini menganut pendekatan yang berorientasi kepada tujuan, pendekatan integrative, pendekatan sistem, dan pendekatan ekosistem juga merupakan tonggak pembaharuan yang lebih nyata dan lebih mantap dalam sistem pendidikan nasional yang dimaksudkan mencapai keselarasan, meningkatakan efisiensi dan efektifitas pengajaran, meningkatkan mutu lulusan pendidikan dan meninggkatkan relevansi pendidikan dengan tuntutan masyarakat yang sedang membangun.
• Kelebihan
Berorientasi pada tujuan yang ingin dicapai artinya bahwa semua komponen kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional,institusional, kurikuler dan instruksional. kurikulum ini juga disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
• Kekurangan
Kurikulum ini hanya terdiri atas program pendidikan umum, akademis dan keterampilan saja dan sudah dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat, selain itu program sosialnya tidak di terapkan secara khusus pemberian pengetahuan social hanya melengkapi pengetahuan lain, adapun mata pelajaran IPS diberikan ketika anak duduk pada kelas tiga SD.

Kurikulum 1984 (CBSA)

Merupakan kurikulum yang perubahannya dilatarbelakangi oleh fakta empirik yaitu karena adanya sejumlah unsur baru dalam GBHN 1983 yang perlu ditampung dalam kurikulum, adanya kesenjangan program pendidikan, baik dengankebutuhan anak didik maupun kebutuhan untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi dan memasuki kehidupan masyarakat. Kurikulum ini berorientasi pada tujuan instruksional, pendekatan pembelajaran berpusat pada anak, pelaksanaan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB), pemberian materi berbeda antara kelas rendah dan tinggi semakin tinggi kelas maka pemberian materi semakin luas.
• Kelebihan
Pada pendekatan proses belajar mengajar pada kurikulum sekolah dasar diarahkan guna membentuk keterampilan murid untuk memproses pemrolehannya dengan demikian proses belajar mengajar lebih mengacu kepada bagaimana seseorang belajar dengan memperhatikan kecepatan belajar murid yang merujuk kepada tiga aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Pada kurikulum ini terdapat pelaksanaan Pendidikan sejarah Perjuangan Bangsa yang disajikan secara terpisah.
• Kekurangan
Dilihat dari pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik maka kemungkinan anak didik yang memiliki kecendrungan lamban dalam memproses pengetahuan akan semakin tertinggal. Pengetahuan social pada kurikulum ini hanya diberikan pada mata pelajaran yang bersifat sejarah saja tetapi nilai sosialnya tidak ditanamkan pada pesrta didik.

Kurikulum 1994

Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurnaan kurikulum 1984 serta mengkombinasikan dengan kurikulum 1975 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Menurut UU tersebut, pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi luhur, memiliki keterampilan dan pengetahuan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Pada kurikulum 1994, pendidikan dasar diwajibkan menjadi sembilan tahun (SD dan SMP). Berdasarkan strukturnya, kurikulum 1994 berusaha menyatukan kurikulum sebelumnya, yaitu kurikulum 1975 dengan pendekatan tujuan dan kurikulum 1984 dengan tujuan pendekatan proses. Di samping meniadakan mata pelajaran PSPB juga diperkenalkannya sistem kurikulum SMU yang

Kurikulum ini disusun dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional yang memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian. Cirinya yaitu adanya perubahan dari semester ke caturwulan, pola pengajaran yang berorientasi pada teori berubah ke muatan isi.

• Kelebihan

Dengan memperhatikan tahap perkembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan memungkinkan siswa belajar lebih mudah yaitu dengan cara belajar pada lingkungan yang ada disekitar siswa. Pendidikannya juga menggunakan metode inquiri yang menurut saya sangat baik dalam melatih siswa guna memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari ini erat kaitannya dengan penggunaan konsep dasar ilmu social.
• Kekurangan
Karena kurikulum ini menggunakan lingkungan sekitar dalam pembelajarannya maka dikhawatirkan ketika terjadi perubahan yang signifikan pada lingkungan akan mengubah orientasi siswa akan apa yang dipelajarinya. Selain itu pelajaran IPS pada kurikulum ini dikemas secara terpisah misalnya seperti pelajaran geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi dan sejarah hal ini dapat menjadikan peserta didik mengalami kesulitan dalam memproses pemrolehannya karena cakupan materi IPS yang terpisah dan terlalu banyak.

Ciri-Ciri Kurikulum 1994
Terdapat ciri-ciri yang menonjol dari pemberlakuan kurikulum 1994, di antaranya sebagai berikut:
1. Pembagian tahapan pelajaran di sekolah dengan sistem caturwulan
2. Pembelajaran di sekolah lebih menekankan materi pelajaran yang cukup padat (berorientasi kepada materi pelajaran/isi). Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain.
3. Kurikulum 1994 bersifat populis, yaitu yang memberlakukan satu sistem kurikulum untuk semua siswa di seluruh Indonesia. Kurikulum ini bersifat kurikulum inti sehingga daerah yang khusus dapat mengembangkan pengajaran sendiri disesuaikan dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
4. Dalam pelaksanaan kegiatan, guru memilih dan menggunakan strategi yang melibatkan siswa aktif dalam belajar, baik secara mental, fisik, dan sosial. Dalam mengaktifkan siswa guru dapat memberikan bentuk soal yang mengarah kepada jawaban konvergen, divergen (terbuka, dimungkinkan lebih dari satu jawaban), dan penyelidikan.
5. Dalam pengajaran suatu mata pelajaran hendaknya disesuaikan dengan kekhasan konsep/pokok bahasan dan perkembangan berpikir siswa, sehingga diharapkan akan terdapat keserasian antara pengajaran yang menekankan pada pemahaman konsep dan pengajaran yang menekankan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.
6. Pengajaran dari hal yang konkrit ke hal yang abstrak, dari hal yang mudah ke hal yang sulit, dan dari hal yang sederhana ke hal yang komplek.dan
7. Pengulangan-pengulangan materi yang dianggap sulit perlu dilakukan untuk pemantapan pemahaman siswa

Kurikulum 2004 (KBK)

Merupakan kurikulum yang berorientasi pada hasil belajar, penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual atau klasikal, sumber belajar bukan hanya guru, penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.Untuk mata pelajaran IPS dan PKn di integrasikan kembali menjadi satu.Kurikulum 2004 lebih populer dengan sebutan KBK (kurikulum Berbasis Kompetensi). Lahir sebagai respon dari tuntutan reformasi, diantaranya UU No 2 1999 tentang pemerintahan daerah, UU No 25 tahun 2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom, dam Tap MPR No IV/MPR/1999 tentang arah kebijakan pendidikan nasional. KBK tidak lagi mempersoalkan proses belajar, proses pembelajaran dipandang merupakan wilayah otoritas guru, yang terpenting pada tingkatan tertentu peserta didik mencapai kompetensi yang diharapkan. Kompetensi dimaknai sebagai perpaduan pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir, dan bertindak. Seseorang telah memiliki kompetensi dalam bidang tersebut yang tercermin dalam pola perilaku sehari-hari.
Dalam kurikulum 2004 ini, para murid dituntut aktif mengembangkan keterampilan untuk menerapkan IPTEK tanpa meninggalkan kerja sama dan solidaritas, meski sesungguhnya antar siswa saling berkompetisi. Jadi di sini, guru hanya bertindak sebagai fasilitator, namun meski begitu pendidikan yang ada ialah pendidikan untuk semua. Dalam kegiatan di kelas, para siswa bukan lagi objek, namun subjek
KBK memiliki empat komponen, yaitu kurikulum dan hasil belajar (KHB), penilaian berbasis kelas (PBK), kegiatan belajar mengajar (KBM), dan pengelolaan kurikulum berbasis sekolah (PKBS). KHB berisi tentang perencaan pengembangan kompetensi siswa yang perlu dicapai secara keseluruhan sejak lahir sampai usia 18 tahun.
PBK adalah melakukan penilaian secara seimbang di tiga ranah, dengan menggunakan instrumen tes dan non tes, yang berupa portofolio, produk, kinerja, dan pencil test. KBM diarahkan pada kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman, guru tidak bertindak sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai motivator yang dapat menciptakan suasana yang memungkinkan siswa dapat belajar secara penuh dan optimal. PKBS memuat berbagai pola pemberdayaan tenaga kependidikan dan sumberdaya lain untuk meningkatkan mutu hasil belajar
• Kelebihan
Menurut saya dengan menggunakan metode dan model yang bervariasi dapat membuat anak menikmati proses pembelajaran tanpa merasakan kejenuhan. Sehingga hasil belajarpun dapat diperoleh secara bervariasi sesuai dengan kemampuan anak didik.
• Kekurangan
Pada kurikulum ini pelajaran PKn dan IPS disajikan dalam satu mata pelajaran, keterpaduan antara muatan pengetahuan yang menekankan peserta didik pada pendidikan moral juga social yang kurang terfokus satu sama lain hal ini akan membuat peserta didik kurang memahami pelajaran tersebut ketika keduanya diberikan secara terpisah.

 

Kurikulum (KTSP)

Merupakan kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Adapun ciri-cirinya tidak berbeda dengan kurikulum tahun 2004 akan tetapi perbedaan mendasar terdapat pada tujuan, visi-misi, struktur dan muatan kurikulum,beban belajar, kalender pendidikan dan pengembangan silabusnya.pada

kurikulum ini mata integrasi antara IPS dan PKn di pisahkan kembali.
• Kelebihan

Kelebihannya terletak pada prinsip KTSP yang mana pembelajarannya berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan pesera didik. Pembelajaran beragam dan terpadu, relevan terhadap kebutuhan kehidupan, menyeluruh dan berkesinambungan, belajar sepanjang hayat, seimbang antara kepentingan nasional dan daerah. Guru sebagai pengajar, pembimbing, pelatih dan pengembang kurikulum.
Kurikulum sangat humanis, yaitu memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan isi/konten kurikulum sesuai dengan kondisi sekolah, kemampuan siswa dan kondisi daerahnya masing-masing.
Menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman, kemampuan atau kompetensi terutama di sekolah yang berkaitan dengan pekerjaan masyarakat sekitar.
Standar kompetensi yang memperhatikan kemampuan individu, baik kemampuan, kecakapan belajar, maupun konteks social budaya. Berbasis kompetensi sehingga peserta didik berada dalam proses perkembangan yang berkelanjutan dari seluruh aspek kepribadian, sebagai pemekaran terhadap potensi-potensi bawaan sesuai dengan kesempatan belajar yang ada dan diberikan oleh lingkungan.

Tujuan KTSP
Tujuan umum:
Untuk memandirikan dan memberdayakan satuan pendidikan melalui pemberian kewenangan (otonomi) kepada lembaga pendidikan dan mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif dalam pengembangan kurikulum
Tujuan khusus:
1.Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola dan memberdayakan sumber daya yang tersedia.
2.Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputusan bersama.
3.Meningkatkan kompetisi yang sehat antar satuan pendidikan tentangkualitas pendidikan yang akan dicapai.

 

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

FISIKA (DAYA)

DAYA

Pada pokok bahasan mengenai usaha dan energi, energi potensial dan energi kinetik serta pembahasan Hukum Kekekalan Energi, kita telah mempelajari konsep usaha tanpa memperhitungkan besaran waktu. Misalnya ketika mengangkat sebuah batu hingga ketinggian tertentu, kita membutuhkan sejumlah usaha. Batu yang kita angkat dengan sejumlah usaha tentu saja memerlukan selang waktu tertentu untuk berpindah dari kedudukan awal ke kedudukan akhir. Batu yang diangkat secara perlahan-lahan pasti memiliki waktu tempuh yang lebih lama dibandingkan dengan batu yang diangkat dengan cepat. Pada kesempatan ini kita akan mempelajari pokok bahasan Daya, sebuah besaran fisika yang menyatakan hubungan antara usaha dan waktu. Selamat belajar, semoga sukses…..

Dalam ilmu fisika, daya diartikan sebagai laju dilakukannya usaha atau perbandinga antara usaha dengan selang waktu dilakukannya usaha. Dalam kaitan dengan energi, daya diartikan sebagai laju perubahan energi. Sedangkan Daya rata-rata didefinisikan sebagai perbandingan usaha total yang dilakukan dengan selang waktu total yang dibutuhkan untuk melakukan usaha. Secara matematis,

Berdasarkan persamaan ini, dapat disimpulkan bahwa semakin besar laju usaha, semakin besar Daya. Sebaliknya, semakin kecil laju Usaha maka semakin kecil laju Daya. Yang dimaksudkan dengan laju usaha adalah seberapa cepat sebuah usaha dilakukan. Misalnya mobil A dan B memiliki massa yang sama menempuh suatu lintasan berjarak 1 km. Apabila mobil A menempuh lintasan tersebut dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan mobil B, maka ketika menempuh lintasan itu, daya mobil A lebih besar dari mobil B. Dengan kata lain, Mobil A memiliki laju perubahan energi kimia menjadi energi mekanik yang lebih besar dari pada mobil

Daya merupakan besaran skalar, besaran yang hanya mempunyai nilai alias besar, tidak mempunyai arah. Satuan Daya dalam Sistem Internasional adalah Joule/detik. Joule/detik juga biasa disebut Watt (disingkat W), untuk menghargai James Watt. Dalam sistem British, satuan daya adalah 1 pon-kaki/detik. Satuan ini terlalu kecil untuk kebutuhan praktis sehingga digunakan satuan lain yang lebih besar, yakni dayakuda atau horse power (disingkat hp). 1 dayakuda = 550 pon-kaki/detik = 764 watt = ¾ kilowatt.

Besaran Usaha juga bisa dinyatakan dalam satuan daya x waktu, misalnya kilowatt-jam alias KWH. Satu KWH adalah usaha yang dilakukan dengan laju tetap sebesar 1 Kilo Watt selama satu jam.

Daya seekor kuda menyatakan seberapa besar usaha yang dilakukan kuda per satuan waktu. Daya sebuah mesin menyatakan seberapa besar energi kimia atau listrik dapat diubah menjadi energi mekanik per satuan waktu.

Hasil perhitungan kita menunjukkan bahwa ketika menaiki tangga, orang tersebut mengubah energi kimia menjadi energi mekanik sebesar 2400 Joule. Ini belum termasuk energi panas yang dihasilkan ketika orang tersebut bergerak. Jadi ketika menaiki tangga, energi yang diubah orang tersebut lebih besar dari 2400 Joulel

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

FISIKA DASAR

Besaran Pokok
Untuk mencapai suatu tujuan tertentu di dalam fisika, kita biasanya melakukan pengamatan yang disertai dengan pengukuran. Pengamatan suatu gejala secara umum tidaklah lengkap apabila tidak disertai data kuantitatif yang didapat dari hasil pengukuran. Lord Kelvin, seorang ahli fisika berkata, bila kita dapat mengukur yang sedang kita bicarakan dan menyatakannya dengan angka-angka, berarti kita mengetahui apa yang sedang kita bicarakan itu.
Apa yang Anda lakukan sewaktu melakukan pengukuran? Misal Anda mengukur panjang meja belajar dengan menggunakan jengkal, dan mendapatkan bahwa panjang meja adalah 6 jengkal. Jadi, mengukur adalah membandingkan sesuatu yang diukur dengan sesuatu lain yang sejenis yang ditetapkan sebagai satuan. Dalam pengukuran di atas Anda telah mengambil jengkal sebagai satuan panjang.
Sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dengan angka disebut besaran. Contoh besaran adalah panjang, massa, dan waktu. Besaran pada umumnya memiliki satuan. Panjang memiliki satuan meter, massa memiliki satuan kilogram, dan waktu memiliki satuan sekon. Tetapi nanti akan ada beberapa besaran yang tidak memiliki satuan, misalnya indeks bias cahaya dan massa jenis relatif.
Sebelum adanya standar internasional, hampir tiap negara menetapkan sistem satuannya sendiri. Penggunaan bermacam-macam satuan untuk suatu besaran ini menimbulkan kesukaran. Kesukaran pertama adalah diperlukannya bermacam-macam alat ukur yang sesuai dengan satuan yang digunakan. Kesukaran kedua adalah kerumitan konversi dari satu satuan ke satuan lainnya, misalnya dari jengkal ke kaki. Ini disebabkan tidak adanya keteraturan yang mengatur konversi satuan-satuan tersebut.
Akibat kesukaran yang ditimbulkan oleh penggunaan sistem satuan yang berbeda maka muncul gagasan untuk menggunkan hanya satu jenis satuan saja untuk besaran-besaran dalam ilmu pengetahuan alam dan teknologi. Suatu perjanjian internasional telah menetapkan satuan sistem internasional (Internasional System of Units) disingkat satuan SI. Satuan SI ini diambil dari sistem metrik yang telah digunakan di Perancis.

Besaran Pokok Satuan Singkatan Dimensi
panjang meter m [L]
massa kilogram kg [M]
waktu sekon s [T]
kuat arus listrik ampere A [I]
Suhu Kelvin K teta
jumlah zat mol mol [N]
intensitas cahaya candela cd [J]

Besaran Turunan
Besaran turunan adalah besaran yang diturunkan dari besaran pokok. Dengan demikian satuan besaran turunan diturunkan dari satuan besaran pokok. Sebagai contoh adalah luas, volum, massa jenis, kecepatan, dan percepatan.
Besaran Turunan Rumus Dimensi Satuan dan Singkatan
Luas panjangXlebar [L]2 m2

Volum panjangXlebarXtinggi [L]3 m3
Massa jenis massa/volum [M][L]-3 kgm-3
Kecepatan perpindahan/waktu [L][T]-1 ms-1
Percepatan kecepatan/waktu [L][T]-2 ms-2
Gaya massaXperpindahan [M][L][T]-2 kgms-2 = newton (N)
Usaha dan Energi gayaXperpindahan [M][L]2[T]-2 kgm2s-2 = joule (J)
Tekanan gaya/luas [M][L]-1[T]-2 kgm-1s-2 = pascal (Pa)
Daya usaha/waktu [M][L]2[T]-3 kgm2s-3 = watt (W)
Impuls dan Momentum gayaXwaktu [M][L][T]-1 kgms-1 = Ns

Dimensi
Volum sebuah balok adalah hasil kali panjang, leaber dan tingginya (gambar 1). Panjang, lebar, dan tinggi adalah besaran yang identik, yaitu ketiganya memiliki dimensi panjang. Oleh karena itu, dimensi volum adalah panjang3. Jadi, dimensi suatu besaran menunjukkan cara besaran itu tersusun dari besaran-besaran pokok.
Dimensi besaran pokok dinyatakan dengan lambang huruf tertentu (ditulis huruf besar) dan diberi kurung persegi, seperti diperlihatkan pada tabel 3. Dengan alasan praktis, sering dijumpai tanda kurung persegi ini dihilangkan. Dimensi suatu besaran turunan ditentukan oleh rumus besaran turunan tersebut jika dinyatakan dalam besaran-besaran pokok.
Dua besaran atau lebih hanya dapat dijumlahkan atau dikurangkan jika kedua atau semua besaran itu memiliki dimensi yang sama. Sebagai contoh kita tidak dapat menjumlahkan besaran kecepatan dengan besaran percepatan. Jadi, A + B = C hanya dapat kita jumlah jika ketiganya memilii dimensi yang sama.
Seringkali kita dapat menentukan bahwa suatu rumus salah hanya dengan melihat dimensi atau satuan dari kedua ruas persamaan. Sebagai contoh, ketika kita menggunakan rumus A = 2.phi.r untuk menghitung luas. Dengan melihat dimensi kedua ruas persamaan, yaitu [A] = L2 dan [2.phi.r] = L kita dengan cepat dapat menyatakan bahwa rumus tersebut salah karena dimensi kedua ruasnya tidak sama. Tetapi ingat, jika kedua ruas memiliki dimensi yang sama, itu tidak berarti bahwa rumus tersebut benar. Hal ini disebabkan pada rumus mungkin terdapat suatu angka atau konstanta yang tidak memiliki dimensi, misalnya Ek = 1/2 mv2 , di mana 1/2 tidak bisa diperoleh dari analisis dimensi.
Jika dapat menentukan bagaimana suatu besaran bergantung pada besaran-besaran lainnya, maka anda dapat menggunakan metode analisis dimensional untuk menentukan suatu persamaan yang menghubungkan besaran-besaran tersebut. Anda harus ingat karena dalam suatu persamaan mungkin muncul angka tanpa dimensi, maka angka tersebut kita wakili dengan suatu konstanta tanpa dimensi, misalnya konstanta k.

000 000 000 000 911 kg memerlukan tempat yang lebar dan sering salah dalam penulisannya. Untuk mengatasi masalah tersebut, kita dapat menggunakan notasi ilmiah atau notasi baku.
Dalam notasi ilmiah, hasil pengukuran dinyatakan sebagai:
a, . . . . x 10n
di mana:
a adalah bilangan asli mulai dari 1 sampai dengan 9
n disebut eksponen dan merupakan bilangan bulat
Dalam persamaan tersebut,
a, . . . . disebut bilangan penting
10ndisebut orde besar
Angka Penting
Angka penting adalah semua angka yang diperoleh dari hasil pengukuran, yang terdiri dari angka eksak dan satu angka terakhir yang ditaksir (atau diragukan). Bila kita mengukur panjang suatu benda dengan mistar berskala mm dan melaporkan hasilnya dalam 4 angka penting, yaitu 114,5 mm. Jika panjang benda tersebut kita ukur dengan jangka sorong maka hasilnya dilaporkan dalam 5 angka penting, misalnya 114,40 mm, dan jika diukur dengan mikrometer sekrup maka hasilnya dilaporkan dalam 6 angka penting, misalnya 113,390 mm. Ini menunjukkan bahwa banyak angka penting yang dilaporkan sebagai hasil pengukuran mencerminkan ketelitian suatu pengukuran. Makin banyak angka penting yang dapat dilaporkan, makin teliti pengukuran tersebut. Tentu saja pengukuran panjang dengan mikrometer sekrup lebih teliti dari jangka sorong dan mistar.
Pada hasil pengukuran mistar tadi dinyatakan dalam bilangan penting yang mengandung 4 angka penting : 114,5 mm. Tiga angka pertama, yaitu: 1, 1, dan 4 adalah angka eksak karena dapat dibaca pada skala, sedang satu angka terakhir, yaitu 5 adalah angka taksiran karena angka ini tidak bisa dibaca pada skala, tetapi hanya ditaksir.
Aturan-aturan angka penting:
Semua angka bukan nol adalah angka penting
Angka nol yang terletak di antara dua angka bukan nol termasuk angka penting
Semua angka nol yang terletak pada deretan akhir dari angka-angka yang ditulis di belakang koma desimal termasuk angka penting
Angka-angka nol yang digunakan hanya untuk tempat titik desimal adalah bukan angka penting
Bilangan-bilangan puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya yang memiliki angka-angka nol pada deretan akhir harus dituliskan dalam notasi ilmiah agar jelas apakah angka-angka nol tersebut adalah angka penting atau bukan
Bilangan penting diperoleh dari kegiatan mengukur, sedangkan bilangan eksak diperoleh dari kegiatan membilang. Hasil perkalian atau pembagian antara bilangan penting dengan bilangan eksak hanya boleh memiliki angka penting sebanyak bilangan pentingnya. Angka lebih kecil dari sama dengan 4 ditiadakan dalam pembulatan, sehingga angka sebelumnya tidak berubah. Angka lebih besar sama dengan 5 dibulatkan ke atas, sehingga angka sebelumnya bertambah dengan satu.
Banyak angka penting dalam hasil perkalian atau pembagian bilangan-bilangan penting sama dengan banyak angka penting dari bilangan penting yang memiliki angka penting paling sedikit. Hasil penjumlahan atau pengurangan bilangan-bilangan penting hanya boleh mengandung satu angka taksiran.
Notasi Ilmiah

Pengukuran dalam fisika terbentang mulai dari ukuran partikel yang sangat kecil, seperti massa elektron, sampai dengan ukuran yang sangat besar, sangat besar, seperti massa bumi. Penulisan hasil pengukuran benda sangat besar, misalnya massa bumi kira-kira 6 000 000 000 000 000 000 000 000 kg atau hasil pengukuran partikel sangat kecil, misalnya massa sebuah elektron kira-kira 0,000 000 000 000 000 000. Hasil memangkatkan atau menarik akar suatu bilangan penting hanya boleh memiliki angka penting sebanyak angka penting dari bilangan penting yang dipangkatkan atau ditarik akarnya.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

TRIGONOMETRI

PENJUMLAHAN DUA SUDUT (a + b)

sin(a + b)  = sin a cos b + cos a sin b
cos(a + b) = cos a cos b – sin a sin b
tg(a + b )   = tg a + tg b
1 – tg2a

SELISIH DUA SUDUT (ab)

sin(ab)  = sin a cos b – cos a sin b
cos(ab) = cos a cos b + sin a sin b
tg(a b )   = tg a – tg b
1 + tg2a

SUDUT RANGKAP

sin 2a = 2 sin a cos a
cos 2
a = cos2a – sin2 a
= 2 cos2
a – 1
= 1 – 2 sin2
a
tg 2
a = 2 tg 2a
1 – tg2
a
sin
a cos a = ½ sin 2a
cos2
a = ½(1 + cos 2a)
sin2
a = ½ (1 – cos 2a)

Secara umum :

sin na = 2 sin ½na cos ½na
cos n
a = cos2 ½na – 1
= 2 cos2 ½n
a – 1
= 1 – 2 sin2 ½n
a
tg n
a = 2 tg ½na
1 – tg2 ½n
a

JUMLAH SELISIH DUA FUNGSI YANG SENAMA

BENTUK PENJUMLAHAN ® PERKALIAN

sin
a + sin b = 2 sin a + b cos a b
2              2
sin
a – sin b = 2 cos a + b sin a b
2             2
cos
a + cos b = 2 cos a + b cos a b
2              2
cos
a + cos b = – 2 sin a + b sin a b
2             2

BENTUK PERKALIAN ® PENJUMLAHAN

2 sin
a cos b = sin (a + b) + sin (a b)
2 cos
a sin b = sin (a + b) – sin (a b)
2 cos
a cos b = cos (a + b) + cos (a b)
– 2 sin a cos b = cos (a + b) – sin (a b)

PENJUMLAHAN FUNGSI YANG BERBEDA

Bentuk a cos x + b sin x

Merubah bentuk a cos x + b sin x ke dalam bentuk K cos (x – a)


a cos x + b sin x = K cos (x-
a)

dengan : 
K = Öa2 + b2 dan tg a = b/a Þ a = … ?

Kuadran dari a ditentukan oleh kombinasi tanda a dan b sebagai berikut

I
II
III
IV
a
+
+
b
+
+

keterangan :
a = koefisien cos x
b = koefisien sin x


PERSAMAAN
I. sin x = sin
a Þ x1 = a + n.360°
x2 = (180° –
a) + n.360°

cos x = cos a Þ x = ± a + n.360°

tg x = tg a Þ x = a + n.180°    (n = bilangan bulat)

II. a cos x + b sin x = c
a cos x + b sin x = C
K cos (x-
a) = C
cos (x-
a) = C/K
syarat persamaan ini dapat diselesaikan
-1
£ C/K £ 1 atau K² ³ (bila K dalam bentuk akar)

misalkan C/K = cos b
cos (x –
a) = cos b
(x –
a) = ± b + n.360° ® x = (a ± b) + n.360°

y = a cos x + b sin x

a cos x + b sin x = K cos (x – a)

Maksimum = K ® bila cos (x – a) = 1
cos (x –
a) = cos 0°
® untuk x = a + n.360°

Minimum = -K ® bila cos (x – a) = -1
cos (x – a) = cos 180°

® untuk x = a ± 180° + n.360°


NILAI PEMBUAT NOL FUNGSI (TITIK POTONG DENGAN SUMBU-x)

y = 0 ® bila cos (x-a) = 0
cos (x-a) = cos 90°

® untuk x = a ± 90° + n360°

Untuk x mendekati harga tertentu dapat ditentukan nilai pendekatan dari f(x) yang merupakan limit (nilai Batas) dari f(x) tersebut.

CONTOH
:

Untuk x mendekati tak berhingga, maka f(a) = 2/x akhirnya akan mendekati 0.

ditulis : l i m     2 = 0
x ® ¥ x

Hasil yang harus dihindari

0/0 ; ¥/¥ ; ¥¥ ; 0,¥ (*) (bentuk tak tentu)

TEOREMA

1. Jika f(x) = c maka   l i m    f(x) = c
x ® a

2. Jika l i m    f(x) = F dan l i m    g(x) = G maka berlaku
x ® a x ® a
a.  l i m   [f(x) ± g(x)] =  l i m   f(x) ± l i m   g(x) = F ± G
x ® a
x ® a x ® a

b. l i m   [f(x) g(x)] =  l i m   f(x) l i m   g(x) = F G
x ® a
x ® a x ® a

c. l i m   k f(x) =  k  l i m   f(x) = k F
x ® a
x ® a

l i m     f(x)
d. l i m     f(x) = x ® a = F
x ® a g(x) l i m     g(x) G
x ® a

LANGKAH MENCARI LIMIT SUATU FUNGSI

1. Harga yang didekati disubstitusikan ke fangsi yang dimaksud.
Bila bukan (*) maka itulah nilai limitnya.


2. Bila (*) maka usahakan diuraikan.
Pada fungsi pecahan, faktor yang sama pada pembilang dan     penyebut (penyebab bentuk (*)) dicoret. Pencoretan im boleh     dilakukan, karena x hanya mardekati harga yang diberikan. Kemudian     baru harga yang didekati disubstitusikan. Dalam konteks limit     perhatikan hasil pembagian berikut
:

0/a = 0 ; a/0 = ¥ ; ¥/a = ¥a/¥ = 0 ; ¥ ± a = ¥ (a = konstanta)

KETENTUAN

Untuk x <<< ( x ® 0 ) maka sin x » x
(x <<< kecil sekali ;
» setara )

l i m    sin x = 1             l i m   tg x = 1
x ® 0     x
x ® 0    x

l i m     x = 1            l i m      x = 1
x ® 0   sin  x
x ® 0     tg x

PERLUASAN

l i m    sin ax = a/b       l i m     tg ax = a/b
x ® 0     bx
x ® 0     bx


l i m     ax = a/b       l i m      ax = a/b

x ® 0   sin bx
x ® 0  tg bx


l i m    sin ax = a/b       l i m     tg ax = a/b
x ® 0   sin bx
x ® 0 tg bx

l i m    sin ax = a/b       l i m     tg ax = a/b
x ® 0   tg bx
x ® 0    sin bx

Rumus-rumus trigonometri yang sering digunakan untuk merubah fungsi:

cos x = sin (90° – x)
ctg x = tg (90° – x)
sin ax = 2 sin ½ax cos ½ax

cos ax = 1- 2 sin² ½ax
cos²x = 1 – sin²x

HAL-HAL KHUSUS

 

l i m    axm + bxm-1 + …. =
x ® ¥ pxn + qxn-1 + …
¥ untuk m > n ;
a/p untuk m =n ;
0    untuk m < n

l i m    Öax2 + bx + c  –  Ödx2 + ex + f
x ® ¥
¥ untuk a > d ;
b-e untuk m =n ;
2Öa
¥ untuk a < d

Bila salah satu suku belum berbentuk tanda akar maka dibentuk dengan cara mengkuadratkan kemudian menarik tanda akar.

DALIL L’HOSPITAL

Jika fungsi f dan g masing-masing terdifferensir pada titik x= a
dan f(a) = g(a) = 0 atau f(a) = g(a) = ¥ maka

l i m    f(x) = l i m    f(x)
x ® ¥ g(x)     x ® a g(x)       

CONTOH LIMIT FUNGSI ALJABAR

1.  l i m   x2 – 5x + 6 = (3)2 – 5(3) + 6 = 0 
x ® 3

2.  l i m    3x – 2 ¥ (*) Uraikan
x ® ¥ 2x + 1       ¥

x(3 – 2/x) = 3 – 2/x = 3 – 0 = 3
x(2 – 1/x)    2 + 1/x   2 – 0    2

atau langsung gunakan hal khusus

3.  l i m    x2 – x – 1 ¥ (*) Uraikan
x ® ¥ 10x + 9         ¥

x(x – 1 – 1/x) = x – 1 – 1/x = ¥ – 1 – 0 = ¥ =¥
x(10 – 9/x)       10 + 9/x        10 + 0      10

atau langsung gunakan hal khusus

4.  l i m    x2 – 3x + 2 0 (*) Uraikan
x ® 2   x2 – 5x + 6       0    

(x – 1)(x – 2) = (x – 1) = 2 – 1 = -1
(x – 3)(x – 2) = (x – 3) = 2 – 3

atau langsung gunakan hal khusus ® Differensial

5.  l i m    x3 – 3x2 + 3x – 1 0 (*) Uraikan
x ® 1       x2 – 5x + 6           0    

(x – 1)3 = (x – 1)2 = (1 – 1)2 = 0
(x – 1) (x – 5)     (x + 5)     (1 + 5)     6

atau langsung gunakan hal khusus ® Differensial


6.  l i m    Ö2 + x – Ö2x 0 (*) Hilangkan tanda akar dengan
x ® 2       x – 2            0         mengalikan bentuk sekawan

(x – 1)3 = (x – 1)2 = (1 – 1)2 = 0 = 0
(x – 1) (x – 5)     (x + 5)     (1 + 5)     6

atau langsung gunakan hal khusus ® Differensial


7.  l i m   (3xÖ9x2 + 4x)  = ¥¥ (*) Hilangkan tanda akar
x ® ¥

l i m   (3xÖ9x2 + 4x )  = é 3xÖ9x2 + 4x ù =  (*) Hilangkan tanda
x ® ¥ ë 3xÖ9x2 + 4x  û akar

l i m   (9x2 – (9x2 + 4x)  = l i m    -4x =
x ® ¥ 3x + Ö(9x2 + 4x) x ® ¥ 3x + 3x Ö[1+(a/9x)]

l i m     -4 -4 = -2
x ® ¥ 3 + 3Ö(1 + 0) 6     3

atau langsung gunakan hal khusus

CONTOH LIMIT FUNGSI TRIGONOMETRI

1. l i m   sin 2x = 0 (*)
x ® 0  tg 3x     0

sin 2x = 3x 2 = 1 . 1 . 2 = 2
2x     tg 3x 3             3    3

2. l i m   1 – cos 2x = 0
x ® 0      sin 2x      0

1 – (1 – 2 sin² 2x) = 2 sin² x = sin x = tg x = 0
2 sin x cos x        2 sin x cos       cos x

3. l i m   1 – cos x = 0
x ® 0       3x²      0

2 sin² (½x) = sin (½x) . sin (½x) = 1 . 1 . 1 = 1
3 . 4 . (½x)     6 (½x)      (½x)      6             6

atau langsung gunakan hal khusus ® Differensial

4. l i m   sin x – sin a = 0 (*)
x ® 0       x – a        0

2 cos ½(x+a) sin ½(x-a) = cos ½(x+a) . sin ½(x-a) =
x – a                         ½ (x – a )

cos ½(x+a) . 1 = cos ½(a+a) . 1 = cos a


Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

MATEMATIKA ( ALJABAR)

1.Pengertian variabel, suku, faktor, koefisien, konstanta, da suku sejenis.

Bentuk x+3 dengan x merupakan pengganti pada bilangan bulat. Jika x diganti dengan -2 maka diperoleh x+3=-2+3. Jika x diganti 0 maka diperoleh x+3=0+3. Jika x diganti 100, maka  x+3=100+3. Simbokl atau notasi x pada contoh di atas disebut variabel.

Bentuk seperti 2p, x-x+4,2ax-1, dan (x+2)(x+5) disebut bentuk aljabar.

Bentuk ajlabar seperti 2p artinya 2xp. 2p adalah bentuk aljabar suku tunggal.Faktor dari 2p adalah 2, p, dan 2p. Faktor yang berupa konstanta disebut koefisien.

Bentuk x-x-4 disebut bentuk aljabar suku tiga dengan x, -x, dan -4 sebagai suku-sukunya.

Pada bentuk aljabar 2ax-1 dan x-x-4, suku-suku 2ax dan –x adalah suku-suku dengan variabel yang sama, yaitu x. Suku seperti itu disebut suku sejenis.

2. Operasi hitung pada bentuk aljabar

a. Menjumblahkan dan mengurangkan dua bentuk aljabar

Dalam penjumblahan dan pengurangan bentuk aljabar, hanya dapat dikerjakan pada suku-suku yang sejenis, dengan menjumlahkan atau mengurangi koefisien pada suku-suku sejenis.

Contoh:

6b + 13b =19b ; 14c – 3c = 11c

  1. Perkalian suatu konstantan dengan bentuk aljabar

Pada himpunan bilangan bulat  berlaku sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan, yaitu a x (b + c) = (a x b ) + (a x c ) dan sifat distributif              terhadap pengurangan , yaitu

a x (b – c)= (a x b) – (a x c). Sifat inilah yang akan dipakai untuk menyelesaikan perkalian suatu konstanta dengan aljabar suku dua.

contoh:

4(3x + 5y)= 12x + 20y

4x – 12y= 4( x – 3y)

c. Perkalian dan pembagian dua bentuk faktor

Untuk melakukan oprasi perkalian dan pembagian dua bentuk ajlabar, kita dapat memanfaatkan sifat distributif perkalian terhadap penjumblahan sebagaimana perkalian suatu konstanta dengan bentuk aljabar. Selain itu sifat a : b = c sama artinya a= b x c.

  1. Pangkat dan bentuk aljabar

Suatu bilangan positif bila di pangkatkan hasilnya selalu positif.

Suatu bilangan negatif jika dipangkatkan dengan pangkat genap selalu positif.

Suatu bilangan negatif jika dipangkatka dengan pangkat ganjil hasilnya selalu negatif.

Bilangan nol jika dipangkatkan hasilnya selalu nol(0)

Suatu bilangan yang berlawanan jika dipangkatkan sama dan genap, maka hasilnya selalu positif dan sama.

Suatu bilangan yang berlawanan jika dipasangkan sama dan ganjil, maka hasilnya selalu berlawanan.

  1. B. PECAHAN BENTUK ALJABAR

Kita telah mengetahui bahwa bilangan seperti ⅓, ⅔, dan ⅞ disebut bilangan pecahan. Dan bentuk-bentuk seperti                       disebut pecahan bentuk aljabar.

Suatu pecahan sama dengan nol jika pembilangnya nol.

Sifat-sifat pecahan aljabar:

1. harga suatu bilangan tak berubah bila pembilang dan penyebut dikalikan dengan suatu bilangan yang sama.

2. mengkalikan suatu pecahan dengan suatu bilangan adalah mengalikan pembilangnya dengan bilangan tersebut.

1. KPK dan FPB dari bentuk aljabar suku tunggal.

KPK dan FPB dari suatu bilangan asli adalah dengan menyatakan bilangan-bilangan tersebut sebagai perkalian faktor-faktor primanya.

Untuk menentukan KPK dan FPB dari bentuk aljabar suku tunggal, hampir sama dengan cara mencari KPK dan FPB dari bilangan cacah.

2.  Menyederhanakan pecahan bentuk aljabar.

Perhatikan bentuk pecaaaahan berikut:

Suatu pecahan bentuk aljabar dikatakan paling sederhanan jika bentuk-bentuk aljabar pembilang dan penyebutnya tidak memiliki faktor persekutuan kecuali 1.

2. Oprasi Hitung Pecahan Bentuk Aljabar dengan Penyebut Suku

Penjumlahan dan pengurangan

Hasil oprasi penjumlahan dan pengurangan dapat dperoleh dengan cara menyamakan penyebutnya, kemudian menjumlahakan atau mengurangkan pembilangnya.

Dalam cara yang sama, hal itu juga berlaku pada oprasi penjumlahan dan pengurangan dalam bentuk aljabar.

b.   Perkalian dan pembagian

Hasil perkalian dua pecahan dapat diperoleh dengan cara mengalikan pembilang dengan pembilang dan penyebut dengan penyebut.

Dengan cara yang sama dapat ditentukan hasil perkalian pecahan-pecahan bentuk aljabar.

Untuk pembagian dua pecahan berlaku bahwa membagi dengan suatu pecahan sama dengan mengalikan dengan kebalikan pecahan pembagi.

c.   Pemangkatan.

Untuk menentukan hasil pemangkatan pecahan aljabar, ingat kembali arti pemangkatan suatu bilangan dan sifat perkalian pecahan.

C.  OPRASI PERKALIAN BENTUK ALJABAR

Berikut kita pelajari substitusi bilangan bentuk aljabar dan perkalian istimewa bentuk aljabar.

1. Menyubstitusikan Bilangan pada variabel bentuk aljabar.

2. Perkalian bentuk p(a + b + c) dan p(a + b – c).

3. Perkalian bentuk (a – b)(p + Q).

4. Perkalian bentuk (a + b)(a – b).

5. Bentuk (a + b)

6. Bentuk ( a – b)

  1. D. PENGUNAAN ALJABAR DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
  • 1. Menghitung keseluruhan, nilai per unit, dan nilai bagian.
  • 2. Harga pembelian, harga penjualan, untung(laba), rugi, dan modal.

a. Untung jika harga penjualan lebih dari harga pembelian.

Untung = harga penjualan – harga pembelian.

b. Tidak untung dan tidak rugi jika harga penjualan sama dengan harga pembelian.

c. Rugi jika harga penjualan kurang dari harga pembelian.

Rugi = harga pembelian – harga penjualan.

d. Modal adalah uang yang dipakai sebagai pokok untuk berdagang.

  • 3. Pengertian persen, mengubah bentuk yang satu ke bentuk yang lain di antara pecahan, dan persen.
  • 4. Menentukan persentase untung atau rugi terhadap harga pembelian.
  • 5. Menghitung harga penjualan atau harga pembelian jika persentase untung atau rugi diketahui.

a. Jika untung maka berlaku sebagai berikut:

Harga penjualan = harga pembelian + (presentase untung x harga pembelian).

Harga pembelian = harga penjualan – (persentase untung x harga pembelian).

b. Jika rugi maka berlaku sebagai berikut:

Harga penjualan = harga pembelian – (presentase rugi x harga pembelian).

Harga pembelian = harga penjualan + (presentase rugi x harga pembelian).

  • 6. Rabat (diskon), bruto, tara, dan neto.

a. Rabat(diskon) yaitu potongan harga pada saat transaksi jual beli.

b. bruto, tara dan neto mempunyai pengertian:

Pada suatu kaleng ditulis neto 1kg, tetapi pada saat ditimbang beratnya 1,2kg tulisan 1kg dsebut neto (berat bersih) makanan dalam kaleng.Hasil penimbangan 1,2kg disebut bruto (berat kotor), sedangkan bruto – neto = 0,2kg disebut tara.

Jika diketahui persen tara dan bruto maka untuk mencari tara digunakan rumus:

Tara = persen tara x bruto

  • 7.  Pajak , adalah sejumlah uang yang dibayarkan seseorang kepada negara atau pemerintah untuk digunakan bagi kepentingan rakyat.

8. Bunga, ada 2 jenis bunga tabungan yaitu bunga tunggal dan bunga majemuk. Bunga tunggal adalah bunga yang dihitung hanya berdasarkan besarnya modal saja, sedangkan bunga majemuk adalah bunga yang dihitung berdasarkan besarnya modal dan bunga.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar